Umumnya, menikah di bulan Syawal atau sehabis Lebaran banyak dilakukan orang karena banyak hal. Beberapa di antaranya karena dianjurkan agama, juga ngepasi saat keluarga sedang berkumpul semua. Oleh karena itu, tidak jarang dari kamu yang banyak menerima undangan pernikahan di minggu-minggu terakhir Ramadan. Bahkan ada juga yang dalam sehari ada dua atau tiga lokasi undangan secara bersamaan.

Hipwee jadi mikir, jangan-jangan mereka kompak mumpung uang THR masih ada serta angpau masih terbungkus rapi

Nah, bagi yang sedang menyiapkan pernikahan sehabis Lebaran, tentunya punya banyak tantangan. Bagaimana tidak, selain kalian, masih ada belasan pasangan lain yang juga menyiapkan perhelatan yang sama di waktu yang berdekatan. Susah sih, tapi kalau kita berpelukan bersama, niscaya akan ringan terasa.

Apa saja suka dukanya? Ini dia….

Vendor favorit sudah keburu penuh (dan lebih mahal dari biasanya)

pelaminan tinggal yang ‘biasa’ saja

Karena banyak yang memesan, alhasil banyak vendor telah di-booking pada saat bulan Syawal. Kalaupun masih ada, harganya juga melonjak. Namanya juga peak season orang kawinan. Solusinya, kamu sebaiknya memasan vendor dari jauh-jauh hari dan siapkan dana sebaik-baiknya.

Harus fitting tiga baju sekaligus saat siang hari terik? Aku bisa, aku kuat!

fitting baju

Sebab hari H sudah mendekat, artinya harus fitting baju secepat mungkin. Apa daya, di saat berpuasa harus keliling kota. Mana pula kondisi badan sedang lapar dan lagi kurus-kurusnya. Siapa jamin ‘kan, saat hari H badannya masih segitu?

Inginnya sih icip katering, tapi kok puasa. Tapi kok vendor kateringnya tutup jam lima

ingin icip, tapi belum buka

Sebagai pemerhati kualitas, tentunya kamu ingin agar katering kamu sempurna dan mengesankan para tamu undangan nantinya. Salah satu caranya adalah dengan mengicip dahulu sebelum terhidang. Agak dilema sih kalau saat kamu ingin icip, ternyata kateringnya tutup jam lima.

Kurang fokus menyiapkan Lebaran dan Pernikahan. Karena tenaga terforsir untuk menyiapkan pritilan suvenir

suvenir

Suvenir pernikahan merupakan barang yang perlu disiapkan jelang resepsi. Begitu pula dengan Lebaran. Namun apabila menyiapkannya di waktu bersamaan ditambah kondisi tubuh yang sedang berpuasa, itulah tantangannya.

Banyak teman-teman undangan yang pamit tak bisa datang, karena mudik ke tempat masing-masing

banyak yang pamit, terutama luar kota

Sedihnya, saat undangan mulai tersebar, banyak di antaranya yang pamit karena harus mudik ke kampung halaman yang jauh dari tempat kamu tinggal. Sedih sih, saat sahabat absen di hari pernikahanmu. Tapi berhubung mereka mau pulang, apa boleh buat? Tidak lantas membatalkan rencana pernikahanmu ‘kan?

Para tukang jahit kepenuhan order. Seragam keluarga dan bridesmaid, jadi mahal jatuhnya deh

ugh, banyak penjahit penuh pesanan nih

Persoalan mencari penjahit yang cocok saja sudah jadi PR, apalagi dihadapkan pada fenomena penjahit jelang Lebaran yang kepenuhan order baju Lebaran. Pilihannya ada dua: menjahit di penjahit kurang populer, atau di penjahit favorit dengan harga lebih mahal. Duh, dilema.

Tapi ada sisi positifnya. Yakni bahagianya saat glorifikasi ‘ini Ramadan terakhir jomblo Cuy’, alias tahun depan sudah ada istri/suami yang menemani

kan tahun depan sudah ada yang menemani

Di saat jenuhnya menyiapkan pernikahan, pasti selintas terpikirkan rasa syukur bahwa tahun ini adalah tahun terakhirmu menyandang status lajang. Nggak apa-apa lah, susah sedikit, asalkan tahun depan ada yang diajak sahur dan berbuka bersama.

Saat sering ketemu calon pasangan halal di tengah kerepotan menyiapkan pernikahan, tak disangka terus jadinya makin sayang <3

Jadi makin sayang

Di tengah-tengah hiruk pikuknya menyiapkan pernikahan, ternyata kita makin menyadari bahwa ada sosok manusia lain yang bersedia diajak atau mengajak kamu hidup bersama. Iya, memang berat menyiapkan segalanya. Tetapi jika ada sosok itu, rasanya semua beban bisa dijalani.

Musnah sudah perkara vendor penuh, penjahit penuh, dan kawan-kawan yang pamit satu per satu. Selama kalian bahagia, apa lagi yang dikeluhkan?