Menu

Sikap Pemerintah Singapura Kepada Para Penipunya yang Mengherankan (PART II)

Lucky Plaza Singapore

 

 

Sebelumnya, seorang turis perempuan asal Tiongkok yang disebut dengan nama Ms Zhou juga menjadi korban dengan modus yang sama di toko yang sama itu (Mobile Air, Sim Lim Square). Untuk kasus Ms Zhou ini, menurut pengakuan Direktur Eksekutif Asosiasi Konsumen Singapura (Case) Seah Seng Choon, sedang diadakan penyelidikan apakah Mobile Air melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Seah berkata seperti ini seolah-olah ini merupakan kasus baru pertama kali terjadi di Singapura. Padahal dia sendiri juga mengaku, dari Juli sampai September tahun ini, untuk Mobile Air saja, pihaknya sudah menerima 14 pengaduan.

Ms Zhou membeli iPhone 6 di Mobile Air dengan harga 1.600 dollar Singapura. Seperti yang dialami Pham, dia ditawari toko itu apakah mau garansi 1 tahun atau 2 tahun. Ms Zhou memilih 2 tahun garansi, lalu menandatangani “surat garansi” yang disodorkankan kepadanya itu.

Setelah itu Ms Zhou sangat terkejut ketika Mobile Air menagih lagi untuk pembayaran 2 tahun garansi itu sebesar 2.400 dollar Singapura, padahal harga iPhone 6-nya saja hanya 1.600 dollar! Ms Zhou marah, membatalkan pembelian itu, dan minta uangnya dikembalikan seluruhnya. Tetapi Mobile Air hanya bersedia mengembalikan 1.000 dollar.

Ms Zhou kemudian melaporkan kasus ini ke Small Claims Tribunal, pengadilan khusus untuk menangani kasus-kasus bernilai di bawah 20.000 dollar Singapura.

Tetapi, aneh tapi nyata, pihak pengadilan hanya mewajibkan Mobile Air mengembalikan 1.010 dollar kepada Ms. Zhou. Padahal jelas-jelas modus yang dipraktekkan Mobile Air itu adalah sebuah kecurangan, penipuan.

Mengehrankan sekali, negara yang tidak disiplinnya sedemikian tinggi, kok bisa pemerintahnya begitu toleran terhadap praktek-praktek penipuan yangdapat merusak reputasinya sendiri ini.

Apakah cara-cara menipu seperti ini di Singapura merupakan sesuatu yang legal?

Ketika Ms Zhou hendak mengambil uang tersebut di tokonya, pemilik Mobile Air, Jover Chew, dengan sengaja memberikannya dalam bentuk uang koin seluruhnya yang diisi dalam sebuah kantong sampai penuh. Lebih kurang ajar lagi, kantong berisi uang koin itu tidak diserahkan dengan baik-baik, tetapi dilempar begitu saja ke lantai. Sambil berkata kepada Ms Chou, “If we refund you in coins and you don’t like it, then don’t take it!”

Saat dengan menahan perasaannya Ms Zhou mengumpulkan koin-koin yang berserakan di lantai itu, Jover Chew dan para penjaga tokonya itu malah mengejek-ejeknya dengan kata-kata yang mencemoohnya. Atas ulah mereka itu,  Ms Zhou memanggil polisi. Polisi datang, tetapi tidak berbuat apa-apa. Alasannya itu urusan bisnis antara Ms Zhou dengan pihak Mobile Air.

Chew tidak merasa bersalah atas sikap pihaknya kepada Pham dan Ms Chou, yang dinilainya terlalu banyak bertingkah. Dia juga menolak tuduhan tokonya telah melakukan penipuan dengan menjual iPhone jauh di atas harga normal itu, dengan menganalogikan tokonya dengan hotel mewah.

Katanya, kalau anda membeli nasi ayam di hotel mewah, tentu saja harganya jauh lebih mahal daripada kalau anda membeli nasi ayam di food court. “Apakah hotel mewah yang menjual nasi ayam dengan harga jauh lebih mahal itu telah melakukan penipuan?” katanya membela diri.

Analogi ini tentu saja tidak bisa diterima, karena harga nasi ayam di restoran hotel mewah itu sudah tercantum dengan jelas berikut tax (pajak)-nya, peraciknya juga dari chef yang dibayar mahal, dan cara menjualnya tidak dengan trik licik memperdayai konsumennya dengan “garansi” yang harganya malah dua kali lipat atau lebih dari produknya sendiri. Lagipula di mana-mana di planet bumi ini, yang namanya garansi itu pastilah gratis.

Penipu jenis seperti Chew ini layak mendapat hukuman yang berat. Dari wajahnya saja sudah kelihatan menyebalkan.  Kecuali, pemerintah Singapura memang toleran terhadap penipu-penipu jenis begini. Atau di Singapura, dagang cara begini bukan suatu penipuan?

Menyikapi kasus yang dialami Ms Zhou ini, Kementerian Luar Negeri Tiongkok bertindak cepat. Di laman resmi Kementerian itu diumumkan peringatan kepada seluruh warga Tiongkok untuk berhati-hati jika berbelanja di Singapura.

“Ada banyak laporan insiden tentang penipuan dari turis kami yang membeli ponsel dan elektronik di Singapura,” bunyi pengumuman tersebut.

Di Indonesia, meskipun warganya juga sudah banyak yang menjadi korban penipuan seperti itu di Singapura, Kementerian Luar Negerinya hanya diam saja. Padahal kesaksian para korban itu sudah tersebasr di berbagai media dalam negeri, koran dan media sosial.

Bertolak dari kasus yang menimpa turis asal Vietnam, Pham Can Toai itu, di Kompas.com,Ryan Filbert, seorang praktisi dan inspirator investasi muda Indonesia menulis pengalaman, tip mencegah dan melawan ketika menjadi korban penipuan seperti itu di Singapura.

Rupanya, tiga tahun lalu,  Ryan dan istrinya juga pernah menjadi korban dengan modus penipuan yang sama ketika berbelanja BlackBerry Torch di toko “G3 Advance Trading”, di Lucky Plaza, Singapura. Di dalam tulisannya di Kompas.com itu, selain berbagi pengalaman buruknya itu, Ryan juga memberi tip, bagaimana melawan para penipu elit yang dipelihara pemerintah Singapura itu. Juga tip bagaimana supaya berbelanja di Singapura, tidak sampai menjadi korban penipuan berikutnya.

Tetapi bukankah jauh lebih baik jangan sampai kita menjadi korban penipuan berikutnya ketika berbelanja di sana? Kalau sampai tertipu, melaksanakan tip yang diberikan Ryan ini pun memerlukan waktu dan tenaga yang ekstra, berbulan-bulan lamanya. Tidak sepandan dengan nilai uangnya. Nilai uangnya bisa saja relatif kecil, tetapi yang membuat kita lebih tidak bisa terima itu, adalah rasa sakit hatinya. Seperti lagu dangdut yang dinyanyikan oleh Cita Citata, “Sakit tuh di Sini“.  Jauh lebih baik mencegah sakit hati itu, daripada mengobatinya.

Bagi saya pribadi, alangkah lebih baik lagi, jika tidak benar-benar terpaksa, tidak membeli gadget apa pun di Singapura, termasuk produk-produk audio video-nya, yang juga banyak di jual di dua pusat perbelanjaan di Singapura itu. Alasannya, bukan semata-mata karena takut menjadi korban penipuan, tetapi bukankah barang-barang tersebut semuanya ada juga dijual di Indonesia? Kenapa harus beli di Singapura?

Jika itu produk baru, yang baru ada di Singapura, asalkan sabar saja, dalam tempo beberapa bulan saja, pasti juga sudah dijual di Indonesia juga. Mengenai harganya yang katanya lebih murah, seberapa banyakkah selisihnya? Justru karena jauh lebih murah, kita harus langsung waspada, lebih baik lagi jika tidak membelinya.

Alasan lain juga mengenai garansi dan servis perbaikannya. Untuk produk-produk audio-video, biasanya garansinya hanya berlaku di Singapura. Jika kita memakainya di Indonesia, kemudian rusak, maka pusat servis resmi di Indonesia tidak mau menerimanya. Atau, kalau pun menerimanya akan dikenakan servis tambahan. Itu juga belum tentu bisa diperbaiki di Indonesia, karena ada perbedaaan spesifikasi, onderdilnya hanya ada di Singapura. Masa iya, hanya karena peralatan yang anda beli itu rusak, anda akan ke Singapura hanya untuk memperbaikinya?

Jika tidak sabaran, tetap mau beli saja di Singapura, saran saya beli di toko-toko penjualan resminya, atau yang reputasinya sudah diketahui. Belanja di Bandara Changi juga merupakan alternatif yang baik, karena kecil kemungkinan, di sana pun ada penipunya.

Sumber: Kompasiana

Facebooktwittermail

About gaunjogja

No comments

Leave a comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>