“Dik, itu lho kemarin si Wati anaknya Pak Abdul, lamarannya dapat 2 ekor sapi. Hebat ya dapat orang mana sih? Beruntung banget lho si Wati sama keluarganya…”

Sambil dengan tatapan menyindir seolah menyatakan bahwa kalau kamu anak wanita yang hebat dan berharga, kamu pasti nggak jauh beda sama si Wati. Dan kalau nanti mahar kamu sedikit? Mungkin saja ada rasa terkucil dan bisa jadi orang-orang bakal ngomongin kamu. Seakan harga kamu semurah itu. Seperti itukah esensi mahar?

1. Mahar Adalah Sesuatu yang Dikeluarkan Lelaki Sebagai Pengikat atau Pinangan Pada Wanita

Mahar Pernikahan

Menurut KBBI mahar adalah pemberian wajib berupa uang atau barang dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan ketika dilangsungkan akad nikah. Sedangkan secara Islam mahar atau mas kawin ialah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki (atau keluarganya) kepada mempelai perempuan (atau keluarga dari mempelai perempuan) pada saat pernikahan.

Jadi, sebenarnya apapun bentuk dan besarnya mahar seharusnya sah-sah saja, karena tidak ada ketentuan khusus yang mengatur.

2. Mahar Itu Pengikat, Bukan Simbolis Untuk ‘Membeli’ Wanita

Mahar Sebagai Pengikat

Mahar adalah sebuah bukti bahwa lelaki serius melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan, dan kemudian wanita yang menerima pun rasanya sudah terikat dengan si lelaki, yaah one step closerlah ya buat jadi miliknya. Tapi, mahar itu bukan berarti sebuah alat tukar untuk membeli wanita agar menjadi miliknya, sebab wanita tercipta bukan untuk dijual dengan seharga mahar.

Berapapun nilai harga mahar yang diberikan, ia tetap sangat berharga, karena yang dinilai bukan kadar harta, tapi makna cinta, ketulusan, niat baik dan keseriusan yang terpatri di dalamnya.

3. Bahkan Menurut Rasullah, Sebaik-Baiknya Wanita Adalah yang Ringan Maharnya

mahar

Bagi yang beragama Islam, pasti pernah mendengar Sabda Rasulullah yang menyuruh kita agar tidak mempersulit pernikahan dengan keberadaan mahar, sehingga beliau bersabda : ” Sebaik-baiknya wanita adalah yang maharnya paling ringan”, dan tentunya sebaik-baik lelaki adalah yang menghargai wanitanya.

Nah kan, Rasulullah saja bilang mahar sederhana dan ringan malah mencerminkan wanita baik karena gak mempersulit lelaki yang berniat menikahinya. Tapi, mahar banyak juga mencerminkan laki-laki yang cinta pasangannya. Rasulullah adil ya. Bahkan ni, Rasulullah juga pernah memberi solusi umatnya yang sedang ingin memberi mahar namun tak punya harta, dengan memberikan si wanita cincin dari besi lho! Jadi banyak sedikitnya mahar itu semuanya baik. Tinggal syukuri dan berbaik sangka aja.

4. Sedihnya, Masih Banyak Orang yang Berbangga Jika Bisa Memberi Atau Mendapatkan Mahar Banyak

mahar mahal

Ini dia yang bikin nggak ngerti. Pendeklarasian cinta suci yang akan dibawa hingga akhirat nanti malah diselipi rasa berbangga diri dengan besaran mahar yang nominalnya se langit, cuma biar dipuji. Dapat ujaran wah dari kebanyakan orang. Ya kalau memang lelakinya mampu dan iklas memberikannya kepada si wanita it’s no problem~ .

Tapi kalau misal lelakinya tidak sanggup? Sedangkan ada pemahaman bahwa nominal mahar berbanding lurus dengan nilai seorang wanita? Kasian. Sebenernya niatnya mau pamer apa mau ngehalalin anak orang sih? Kan jadi hilang esensi kesakralannya…

5. Padahal Imbasnya, Kalau Nggak Si Wanita yang Terpojokkan, Ya Si Lelaki yang Bakal Berat Tanggungannya

imbasnya ke pasangan itu

Pemahaman yang terus digaung-gaungkan itu ujung-ujungnya bakal berdampak pada si pasangan, entah wanita atau lelakinya. Kalau maharnya sedikit, ya akhirnya si wanita harus pasang muka tembok dan telinga baja demi mendengar bisik-bisik tetangga, atau bahkan keluarga.

Sebaliknya kalau maharnya banyak, bisa jadi karena si lelaki tiap hari kerja banting tulang nggak kenal lelah cuma biar maharnya wah. Duh sedih. Asal jangan utang atau minta duit sana sini aja sih…

6. Lalu, Bagaimana Untuk Menghilangkan Pemahaman Itu? Ya! Mulailah Tanamkan Dalam Diri Bahwa Mahar Bukan Jual Beli

bahagia

Mau gimana lagi pemahaman itu sudah terlanjur mendarah daging di kebanyakan orang, bahkan mungkin dalam lingkup keluarga kita. Jadi, kalau saat ini kita (akan) jadi korban, yasudah sepakati saja dalam diri sendiri. Bahwa di waktu mendatang, kamu dan juga pasanganmu akan menanamkan pemahaman bahwa mahar bukanlah alat tukar yang bisa membeli wanita.

Mahar adalah bukti keseriusan. Tanamkan itu dan turunkan ke anak cucumu sehingga terciptalah generasi depan manusia-manusia yang tidak hanya memandang sesuatu hanya dari soal harta, tapi dari niat dan ketulusan. Gimana? Sepakat?